Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Agustus 2012

Mungkinkah Otak Lumba-Lumba dan Manusia Sama ?

Pertanyaan soal kemiripan otak lumba-lumba dan manusia rasanya jadi hal menarik, mengingat ada studi terbaru tentang genom menunjukkan lumba-lumba berhidung botol itu menjadi mamalia laut yang memiliki kesamaan gen dengan manusia. Penemuan ini menjelaskan alasan lumba-lumba memiliki otak yang besar.

 
Lumba-lumba memiliki kesamaan dengan manusia dalam kecerdasan, perilaku sosial, dan komunikasi. Menurut penelitian, kesamaan ini sedekat hubungan manusia dengan monyet dan kera.

"Kami tertarik pada alasan yang membuat otak mereka besar dari perspektif molekul," ujar peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Wayne State, Michigan, Amerika Serikat, Michael McGowen.

 
"Kami memutuskan untuk meneliti gen dari genom lumba-lumba. Ini untuk melihat kesamaan antara gen yang telah berubah pada silsilah lumba-lumba dan perubahan pada silsilah primata," ujarnya seperti dilansir dari Daily Mail.
Lumba-lumba bisa mengenali diri mereka di cermin. Kemampuan ini normalnya terbatas pada primata seperti simpanse dan manusia.

Otak lumba-lumba, jelas Michael, melibatkan koneksi berbeda dengan primata, terutama pada neokorteks. Bagian ini menjadi pusat dari fungsi yang lebih tinggi, seperti penalaran dan kesadaran pikiran.
Sumber:

Jumat, 20 Juli 2012

Arsitektur Otak Bedakan Persepsi Visual

Para ilmuwan menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa bagaimana tepatnya kita melihat lingkungan sekitar kita tergantung pada ukuran bagian visual otak kita.

Arsitektur Otak Bedakan Persepsi Visual

Kita semua sudah biasa mendengar pemikiran yang mengatakan bahwa pikiran dan emosi kita berbeda satu dengan lainnya, tapi kebanyakan orang mengasumsikan bahwa cara kita mempersepsi dunia visual biasanya sangat mirip satu dengan lainnya. Namun,korteks visual primer yaitu area di belakang otak yang memproses apa yang kita lihat di sekitar kita, diketahui berbeda-beda ukurannya hingga tiga kali lipat antara satu orang dengan lainnya.

Para peneliti di Wellcome Trust Centre for Neuroimaging di University College London(UCL) menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa ukuran area ini mempengaruhi bagaimana kita mempersepsi lingkungan kita.

Dr. D. Samuel Schwarzkopf, Chen Song dan Profesor Geraint Rees menunjukkan serangkaian ilusi optik kepada 30 relawan sehat. Salah satunya merupakan ilusi Ebbinghaus yang merupakan ilusi populer di mana dua lingkaran berukuran sama masing-masing dikelilingi oleh hiasan-hiasan sirkuler; lingkaran yang satu dikelilingi dengan hiasan lebih besar, dan lainnya dengan hiasan lebih kecil. Kebanyakan orang akan melihat lingkaran pertama lebih kecil dari yang kedua.

Pada ilusi optik kedua yaitu ilusi Ponzo, para relawan diperlihatkan dua lingkaran berukuran sama yang ditempatkan ke gambar sebuah terowongan. Dalam ilusi ini, lingkaran yang ditempatkan di bagian belakang terowongan nampak lebih besar dari yang ditempatkan dekat dengan bagian depan.

Dengan mengadaptasi ilusi-ilusi ini, para peneliti mampu menunjukkan bahwa para relawan melihat ilusi-ilusi tersebut secara berbeda-beda. Sebagai contoh, beberapa orang melihat perbedaan besar ukuran kedua lingkaran (walaupun ilusif), tapi lainnya hampir tak melihat perbedaan ukuran apa pun menurut penglihatan.

Dengan menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional, para peneliti bisa mengukur area permukaan korteks visual primer pada masing-masing relawan. Mereka menemukan banyak variabilitas ukuran area ini. Yang mengejutkan, ada hubungan yang kuat antara ukuran area tersebut dengan tingkat di mana para relawan mempersepsi ukuran ilusi -- semakin kecil area tersebut, semakin nyata ilusi visualnya.

"Penelitian kami merupakan yang pertama kalinya menunjukkan bahwa ukuran bagian otak seseorang dapat memprediksi bagaimana dia mempersepsi lingkungan visualnya," jelas Dr. Schwarzkopf, seperti yang dikutip ScienceDaily (6/12/10).

"Ilusi-ilusi optik mempesonakan dan merangsang imajinasi kita, tapi sebenarnya ilusi-ilusi tersebut menunjukkan kepada kita bahwa bagaimana kita melihat dunia tidak langsung secara fisik akurat, tapi lebih banyak tergantung pada otak kita. Ilusi-ilusi seperti yang kami gunakan mempengaruhi sebesarapa besar sesuatu terlihat; ilusi-ilusi tersebut dapat memperdaya kita untuk percaya bahwa dua obyek identik memiliki ukuran berbeda.

"Kami menunjukkan bahwa bagaimana tepatnya sesuatu terlihat tergantung pada ukuran bagian otak yang diperlukan untuk penglihatan. Seberapa banyak otak anda memperdayai anda tergantung pada seberapa banyak 'kenyataan' yang dikesampingkan otak anda untuk pemrosesan visual."

Minggu, 17 Juni 2012

Katak Bisa prediksi Gempa Bumi dan Aktifitas Seismik

Ternyata katak tak hanya merindukan bulan saja tapi bisa juga meramal

katak atau kodok prediksi gempa

Buktinya datang dari populasi katak yang meninggalkan koloni tempat mereka berkembang biak tiga hari sebelum gempa bumi yang melanda L'Aquila di Italia pada tahun 2009. Bagaimana katak merasakan gempa belumlah jelas, namun kebanyakan induk dan jantan melarikan diri. Mereka bereaksi walaupun koloni mereka berada 74km dari episentrum gempa, kata ilmuwan biologi di Majalah Ilmiah Hewan. Sulit untuk secara objektif dan terukur mempelajari bagaimana para hewan berespon terhadap aktifitas seismik, sebagian dikarenakan gempa bumi jarang terjadi dan tak dapat diprediksi. Beberapa penelitian telah dilakukan tentang bagaimana para binatang piaraan merespon, tapi mengukur respon hewan liar lebih sulit. Bahkan mereka yang diketahui bereaksi, seperti ikan, hewan pengerat dan ular cenderung melakukannya sesaat sebelum gempa bumi terjadi, daripada beberapa hari sebelum kejadian.

Namun, ilmuwan biologi DR. Rachel Grant dari Universitas Terbuka Milton Keynes, Inggris, secara rutin mempelajari perilaku berbagai koloni katak setiap hari di Italia pada waktu sebelum gempa bumi besar terjadi. Studinya mencakup 29 hari pengumpulan data sebelum, selama dan sesudah gempa bumi yang melanda Italia pada 6 April 2009. Gempa berkekuatan 6.3 menghantam dekat kota L'Aquila, sekitar 95km timur laut Roma. DR. Grant sementara mempelajari katak 74km jauhnya di Danau San Ruffino di Italia tengah, ketika dia merekam para katak berperilaku aneh. Lima hari sebelum gempa bumi, para katak jantan di koloni tempat mereka berkembang biak menurun 96%. Hal itu sangatlah tidak wajar bagi katak jantan karena setelah mereka kawin, biasanya mereka tetap aktif dalam jumlah besar di tempat berkembang biak sampai proses bertelur selesai. Namun proses bertelur baru saja mulai di lokasi Danau San Ruffino sebelum gempa bumi menghantam. Lagi pula, tak ada aktifitas cuaca yang dapat dihubungkan dengan menghilangnya para katak itu. Tiga hari sebelum gempa bumi, jumlah pasangan katak tiba-tiba turun menjadi tidak ada sama sekali. Walaupun telur katak ditemukan di lokasi itu enam hari sebelum gempa bumi, dan enam hari setelahnya, tak ada telur yang dibuahi selama periode gempa - waktu dari goncangan pertama hingga sesudah goncangan akhir. "Penelitian kami salah satu dari pertama yang mendokumentasikan perilaku binatang sebelum, selama dan setelah gempa bumi," kata DR. Grant, seperti yang dikutip BBC. Dia meyakini bahwa para katak melarikan diri ke dataran yang lebih tinggi di mana setidaknya mereka aman dari jatuhan bebatuan, longsor dan banjir.

Bagaimana katak merasakan aktifitas seismik yang akan datang secara tepat belumlah jelas. Perubahan perilaku katak bertepatan dengan gangguan pada ionosfer, lapisan elektromagnetis paling atas dari atmosfer bumi, yang dideteksi oleh para peneliti di sekitar waktu gempa L'Aquila menggunakan sebuah teknik yang dikenal sebagai penyuaraan frekuensi radio sangat rendah. Perubahan seperti itu pada atmosfer secara bergantian oleh beberapa ilmuwan dihubungkan kepada pelepasan gas radon, atau gelombang gravitasi, sebelum gempa bumi terjadi. Pada kasus gempa L'Aquila, DR. Grant tidak bisa menentukan apa yang menyebabkan gangguan di ionosfer. Namun, penemuannya memang memperlihatkan bahwa katak dapat mendeteksi sesuatu. "Temuan kami memperlihatkan bahwa para katak bisa mendeteksi berbagai petunjuk pra-seismik seperti pelepasan gas dan partikel-partikel perangsang, dan menggunakannya sebagai bentuk peringatan dini gempa," katanya.

Senin, 28 Mei 2012

Rasa Lapar Membuat Otak Lalat Tetap Pintar Walau Tak Tidur

Seperti yang diketahui oleh yang pernah mencoba tetap terjaga setelah makan kenyang, makan bisa mendorong rasa kantuk. Penelitian baru pada lalat buah menunjukkan sebaliknya yaitu rasa lapar bisa saja menjadi cara untuk tetap bangun tanpa rasa pusing atau hambatan mental.

Lalat Buah

Para ilmuwan di Universitas Washington di St. Louis menemukan bahwa rasa lapar menyebabkan kebutuhan akan nutrisi menekan kebutuhan untuk tidur. Sama seperti manusia dan tikus, lalat buah tak dapat bertahan hidup tanpa tidur. Akan tetapi, pada lalat buah yang direkayasa untuk sensitif terhadap kekurangan tidur, rasa lapar bisa meningkatkan waktu bertahan hidup tanpa tidur hampir tiga kali lipat .

Para peneliti menunjukkan bahwa kemampuan untuk menahan efek kurang tidur terhubung dengan protein yang membantu otak lalat buah mengatur penyimpanan dan penggunaan lipid yang merupakan jenis molekul termasuk lemak seperti kolesterol dan vitamin yang dapat larut dalam lemak seperti vitamin A dan D.

"Obat-obatan umum yang digunakan untuk membuat orang tertidur atau membuat orang tetap bangun, semuanya ditargetkan pada sejumlah jalur-jalur di otak, semuanya berhubungan dengan transmisi neuro," kata Paul Shaw, PhD, asisten profesor neurobiologi dan anatomi. "Memodifikasi pemrosesan lipid dengan obat-obatan bisa memberikan kita sebuah cara baru yang lebih efektif atau lebih kurang efek sampingnya dalam menanggulangi masalah tidur."

Penelitian tersebut diterbitkan secara online pada tanggal 31 Agustus di PLoS Biology.

Penemuan tersebut menambah tantangan baru ke dalam hubungan rumit antara tidur dan metabolisme diet. Para ilmuwan mengetahui sekitar satu dekade lalu bahwa kekurangan tidur menyebabkan obesitas dan berperan dalam perkembangan diabetes dan penyakit koroner. Sampai saat ini, tak seorangpun telah menghubungkan antara gen yang terkait lipid dengan pengaturan kebutuhan tidur.

Clay Semenkovich, MD yang merupakan seorang ahli lipid Universitas Washington tapi tak secara langsung terlibat dalam penelitian itu mengatakan bahwa hasilnya cocok dengan pemahaman yang sedang berkembang bahwa organisme menggunakan lipid lebih dari sekedar penyimpanan tenaga.

"Semakin jelas bahwa lemak berfungsi sebagai molekul pemberi sinyal dalam berbagai konteks," kata Semenkovich, seorang Profesor Kedokteran Herbert S. Gasser. "Jika anda mengidentifikasi lipid yang terlibat dalam pengaturan tidur dan mencari cara untuk mengontrolnya, anda bisa mengurangi derita yang berhubungan dengan kekurangan tidur atau kebutuhan untuk tetap bangun."

Shaw menggunakan lalat buah sebagai model efek tidur pada organisme yang lebih tinggi. Dia merupakan salah satu di antara mereka yang pertama membuktikan bahwa lalat buah memasuki kondisi yang bisa dibandingkan dengan tidur, yang menunjukkan bahwa lalat buah memiliki periode tidak aktif di mana rangsangan yang lebih besar dibutuhkan untuk membangunkan mereka. Sama seperti manusia, lalat buah yang kurang tidur satu hari akan mencoba untuk menggantinya dengan tidur lebih banyak pada hari berikutnya, suatu fenomena yang ditunjukkan sebagai hutang tidur. Lalat buah yang kurang tidur juga menunjukkan performa yang kurang pada uji sederhana kemampuan belajar.

Penelitian di lab lain menunjukkan bahwa rasa lapar atau puasa menahan lapar, mengakibatkan waktu tidur berkurang. Penelitian yang lebih baru juga menunjukkan bahwa rasa lapar bisa mengubah tingkat aktifitas gen yang mengatur penyimpanan dan penggunaan lipid.

Laboratorium Shaw sebelumnya mendemonstrasikan bahwa lalat buah dengan mutasi pada gen waktu biologis mengakumulasi hutang tidur lebih cepat dan mulai mati setelah tetap bangun sekurang-kurangnya 10 jam. Matt Thimgan, PhD, seorang rekan peneliti pascadoktoral, melaporkan dalam sebuah surat kabar bahwa lalat buah yang kelaparan meluangkan lebih banyak waktu terbangun, dan lalat buah kelaparan dengan mutasi gen waktu biologis bisa bertahan hingga 28 jam tanpa tidur.

Para ilmuwan menguji lalat yang kelaparan dan kurang tidur dengan dua tanda akan hutang tidur yaitu enzim pada air liur atau saliva dan kemampuan lalat untuk belajar mengasosiasikan cahaya dengan rangsangan yang tidak menyenangkan. Kedua hasil uji menunjukkan bahwa lalat yang kelaparan tidak mengantuk.

"Dari perspektif evolusioner, hal ini masuk akal," kata Thimgan. "Jika anda kelaparan, anda ingin memastikan secara kognitif bahwa anda berada di atas permainan, untuk meningkatkan kesempatan anda menemukan makanan daripada menjadi makanan untuk orang lain."

Para ilmuwan menemukan sebuah efek yang mirip dengan kelaparan pada lalat buah di mana gen yang disebut lipid storage droplet 2 (LSD2) dinonaktifkan. Setelah kurang tidur, lalat buah dengan mutasi LSD2 kurang cenderung untuk tidur dalam waktu yang lama dan tetap mencetak nilai tinggi dalam tes belajar.

"Mutan LSD2 nampaknya secara konstan merotasi lipid melalui depot penyimpanannya dalam sel, menaruhnya ke dalam dan mengeluarkannya dengan sangat cepat," kata Thimgan. "Menonaktifkan LSD2 kelihatannya membuat sel kesulitan untuk menahan lipid dan menggunakannya dengan benar, dan kami pikir hal ini menganggu kemampuan sel-sel otak untuk merespon kekurangan tidur."

Para peneliti sedang berusaha mengidentifikasi lipid tertentu yang dipengaruhi hilangnya LSD2.

Infeksi Malaria Pertama Cegah Infeksi Berikutnya

Sebuah tim peneliti telah menemukan bahwa malaria yang sudah ada mencegah infeksi oleh parasit malaria berikutnya dengan cara membatasi keberadaan besi dalam hati inang. Penemuan ini memiliki implikasi penting bagi penanganan dan pencegahan malaria yang mempengaruhi jutaan orang di seluruh dunia.

Plasmodium Malaria

Studi tersebut dikembangkan oleh tim yang dipimpin oleh peneliti Maria M. Mota di Instituto de Medicina Molecular, Lisabon, Portugal, yang bekerja sama dengan para peneliti di Weatherall Institute of Molecular Medicine dan Universitas Oxford; dan didanai oleh Portuguese Fundacao pra a Ciencia e Tecnologia, Yayasan Sains Eropa dan Dewan Penelitian Medis, Inggris.

Dalam studi baru ini, para peneliti memfokuskan pada bagaimana parasit malaria berkembang, baik di hati maupun dalam sel-sel darah merah dan menganalisa pola-pola infeksi pada tikus, mencari kasus khusus "infeksi super", di mana seseorang yang sudah terinfeksi malaria kemudian digigit oleh nyamuk kedua yang sudah terinfeksi. Seseorang dalam kawasan resiko tinggi dapat digigit oleh ratusan nyamuk terinfeksi malaria per tahun, yang membuat masalah infeksi super sangat relevan. Studi tersebut untuk pertama kalinya mengungkap peran vital besi dalam perkembangan lebih dari satu infeksi malaria, yang memiliki implikasi kuat bagi suplementasi besi untuk memerangi anemia pada kawasan-kawasan endemis malaria.

Setelah nyamuk menggigit, parasit-parasit malaria pertama-tama menuju hati, menjadi banyak, kemudian keluar dan menyerang sel-sel darah merah. Sebelumnya diketahui bahwa parasit-parasit baik di hati maupun di darah memerlukan besi untuk bertumbuh. Studi baru ini menunjukkan bahwa gigitan kedua nyamuk pada seseorang yang sudah membawa parasit-parasit darah, tidak mengakibatkan ledakan penuh infeksi kedua. Infeksi super diblokir di hati oleh infeksi pertama. Efek protektif ini disebabkan karena parasit-parasit darah menyebabkan parasit-parasit di hati menjadi kehabisan besi, oleh karena itu mereka tidak dapat bertumbuh. Oleh karena itu, hasil-hasil yang diperoleh meragukan konsep biologi bahwa infeksi sel-sel inang berbeda (hepatosit hati atau sel-sel darah merah) terjadi secara terpisah satu sama lain, yang juga memiliki dampak pada bidang penelitian infeksi yang melebihi malaria.

Dr. Silvia Portugal, peneliti pertama studi tersebut mengatakan: "Saya sangat senang kami bisa menemukan interaksi menarik seperti itu terjadi antara tahap-tahap parasit malaria berbeda pada satu inang, dan ini mungkin berkontribusi bagi pengendalian malaria di masa yang akan datang."

Dr. Maria Mota, yang memimpin studi tersebut di Instituto de Medicina Molecular di Lisabon mengatakan: "Penemuan kami membantu menjelaskan perbedaan-perbedaan pada resiko infeksi dan kompleksitas infeksi pada orang-orang muda yang diamati di kawasan-kawasan endemis malaria yang memiliki penjelasan spekulatif yang dibutuhkan hingga saat ini. Lagi pula, mereka meragukan pemikiran bahwa infeksi pada tipe-tipe sel berbeda terjadi secara independen, yang mungkin berdampak pada penelitian mendatang dalam bidang penyakit menular secara keseluruhan."

Dr. Hal Drakesmith yang bekerja sama mempimpin studi tersebut di Weatherall Institute of Molecular Medicine menambahkan: "Sekarang karena kita mengerti bagaimana parasit-parasit malaria melindungi wilayah mereka dalam tubuh dari parasit-parasit pesaingnya, kita mungkin dapat mempertinggi mekanisme pertahanan alami ini untuk memerangi resiko infeksi-infeksi malaria. Pada saat yang sama kami perlu melihat kembali pada kelayakan program-program suplementasi besi di kawasan-kawasan endemis malaria, sebagaimana kenaikan resiko infeksi yang mungkin terjadi perlu ditimbang dengan manfaat-manfaat yang didapatkan. Lebih banyak data diperlukan untuk masalah ini."

Malaria merupakan penyakit merusak yang mempengaruhi kawasan-kawasan ekstensif Afrika, Asia, Amerika Tengah dan Selatan, menyebabkan beberapa ribu kematian per tahun pada anak-anak di bawah lima tahun. Malaria disebabkan oleh infeksi Plasmodium parasit protozoa, yang termasuk pada jenis Apikompleksa. Percobaan untuk membasmi malaria sejauh ini belum berhasil. Kegagalan tersebut bisa dihubungkan pada kenaikan resistensi insektisida pada nyamuk dan pada obat-obatan anti malaria pada parasit. Ada kebutuhan mendesak pengembangan strategi baru melawan malaria.

Penemuan ini dipublikasikan tanggal 15 Mei 2011 di Nature Medicine.

Antioksidan Bisa Mencegah Penyakit Hati Yang Disebabkan Alkohol

Sebuah antioksidan bisa saja mencegah kerusakan pada hati atau liver yang disebabkan oleh konsumsi alkohol berlebihan, menurut penelitian dari Universitas Alabama di Birmingham.

Antioksidan Bisa Mencegah Penyakit Hati Yang Disebabkan Alkohol

Penemuan ini bisa menunjukkan cara perawatan untuk membalikkan steatosis, atau timbunan berlemak dalam hati yang bisa berujung pada sirkosis dan kanker. Tim peneliti yang diketuai oleh Victor Darley-Usmar, Ph.D., profesor patologi di UAB, memperkenalkan sebuah antioksidan bernama Mitochondria-targeted ubiquinone, atau MitoQ, ke mitokondria tikus yang diberikan alkohol setiap hari selama lima hingga enam minggu dalam jumlah yang cukup untuk menyamai konsumsi alkohol berlebihan pada manusia.

Alkoholik kronis, mereka yang minum berlebihan setiap hari, mengalami penimbunan lemak dalam sel-sel hati. Ketika alkohol dimetabolisir dalam hati, dia menciptakan radikal-radikal bebas yang merusak mitokondria dalam sel-sel hati dan mencegah mereka untuk menggunakan sejumlah oksigen yang cukup untuk menghasilkan energi. Lagi pula, kondisi rendah oksigen yang disebut hipoksia memperburuk kerusakan mitokondria dan mendukung pembentukan timbunan lemak yang dapat berujung pada sirkosis.

Darley-Usmar beserta para rekan kerjanya mengatakan bahwa antioksidan MitoQ tersebut mampu mencegah dan menetralisir radikal-radikal bebas sebelum mereka merusak mitokondria, mencegah rentetan efek-efek yang pada akhirnya berujung pada steatosis.

"Belum ada pendekatan secara farmasi yang menjanjikan pada pencegahan atau pembalikkan kerusakan jangka panjang yang berhubungan dengan timbunan lemak di hati yang dihasilkan dari konsumsi alkohol berlebihan," kata Darley-Usmar. "Penemuan kami memberitahukan bahwa MitoQ bisa saja menjadi alat yang berguna bagi perawatan kerusakan hati oleh kebiasaan penggunaan alkohol yang lama."

"Studi-studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa MitoQ dapat secara aman diberikan pada manusia dalam jangka waktu lama," kata Balu Chacko, Ph.D., rekan peneliti dan penggagas studi tersebut. "Antioksidan tersebut bisa saja berpotensi untuk memperbaiki tahap-tahap awal penyakit hati berlemak pada pasien-pasien dengan penyakit hati alkoholik dan non alkoholik."

Catatan Tahunan Hepatologi memperkirakan bahwa penyalahgunaan alkohol memakan biaya $185 milyar setiap tahun di Amerika Serikat, dan bahwa 2 juta orang mengidap beberapa bentuk penyakit hati alkoholik. Sebanyak 90 persen sirkosis hati terhubung dengan penyalahgunaan alkohol dan mencapai 30 persen kanker hati.

Darley-Usmar, yang juga merupakan direktur Pusat Radikal Bebas Biologi di UAB, mengatakan bahwa timnya berdiskusi dengan Institut Kesehatan Nasional untuk mengembangkan seluruh keluarga obat-obatan berbasis di interaksi dengan mitokondria. Dia mengatakan obat-obatan seperti itu mungkin efektif dalam perawatan penyakit kardiovaskuler, penyakit ginjal dan gangguan neurodegeneratif.

"Kami tahu bahwa radikal bebas memainkan peran pada penyakit manusia, dan kami telah mengembangkan antioksidan yang dapat mengeliminasi radikal-radikal bebas di laboratorium," katanya. "Sayangnya, uji coba sebelumnya menggunakan antioksidan pada manusia belum memuaskan. Perbedaannya dengan penemuan kami ialah kami menargetkan bagian khusus sel yaitu mitokondria. Ini merupakan pendekatan unik, dan ini merupakan salah satu dari sedikit uji coba pra-klinik yang menunjukkan keefektifan."

Darley-Usmar mengatakan penemuan tersebut juga bisa berdampak signifikan terhadap pengobatan sindrom metabolik, kondisi yang bertumbuh sangat cepat yang mempengaruhi sekitar 50 juta orang Amerika, menurut Asosiasi Jantung Amerika.

"Sindrom Metabolik digambarkan sebagai interaksi rumit dari faktor-faktor yang disebabkan oleh obesitas yang termasuk kerusakan pada hati karena peningkatan radikal bebas, hipoksia dan deposisi lemak," kata Darley-Usmar. "Hal tersebut cukup mirip dengan hepatotoksisiti ketergantungan alkohol. Akan menyenangkan untuk melihat apabila sebuah antioksidan seperti MitoQ memiliki efek terapis dalam mencegah kerusakan hati pada mereka yang menderita sindrom metabolik."

Penemuan tersebut dipublikasikan pada tanggal 21 April 2011 di jurnal Hepatology.

Senin, 21 Mei 2012

Spesies Baru Kadal Menu Makanan Reptil Vietnam

Kadal yang mengkloning diri sendiri yang sering kali ditampilkan dalam menu istimewa Vietnam ternyata merupakan spesies baru dalam dunia sains.

Spesies Baru Kadal Menu Makanan Vietnam
Kadal yang mengkloning diri sendiri

Para ilmuwan dari Amerika dan Vietnam menemukannya setelah memperhatikan bahwa semua kadal yang ada dalam tangki di satu restoran ternyata berkelamin betina.

Spesies kadal kecil Leiolepis ngovantrii sebelumnya yang tidak didokumentasikan bisa mereproduksi diri dengan kloning, menurut laporan CNN.

Kisah penemuan tersebut terjadi ketika seorang ahli reptil Vietnam mengetahui bahwa semua kadal yang disajikan dalam menu makan malam di sebuah provinsi terpencil adalah betina. Dia menghubungi seorang kolega Amerika yang kemudian terbang ke Vietnam untuk membantunya.

Dr. Lee Grismer yang terbang ke Hanoi dan kemudian menghabiskan dua hari untuk pergi ke wilayah tersebut, menurut CNN tim tersebut menemui beberapa halangan dalam perjalanan, termasuk seorang pemilik restoran yang menjanjikan untuk memberikan beberapa kadal tersebut tapi tidak bisa diantar.

"Sayangnya, sang pemilik tersebut minum-minum dan akhirnya mabuk dan memanggang kadal-kadal tersebut untuk langganan restorannya, jadi ketika kami tiba di sana tak ada lagi yang tersisa."

Tim tersebut kemudian mencari di kafe-kafe lainnya serta menyewa anak-anak untuk mencari kadal tersebut. Mereka menemukan 60 ekor dan menyadari bahwa kadal tersebut merupakan spesies baru.

"Kadal tersebut sepenuhnya merupakan garis keturunan kehidupan baru yang dimakan dan dijual di berbagai restoran," katanya. "Akan tetapi reptil tersebut merupakan sesuatu yang tidak dilihat oleh para ilmuwan selama ratusan tahun."

Namun, Dr. Grismer mengatakan bahwa memakan kadal tak mungkin menjadi populer di luar Vietnam.

"Anda mencoba satu gigitan masakan kadal tersebut dan rasanya seperti sesuatu yang sangat tua dan mati dalam mulut anda," tutupnya.

Burung Gagak Bisa Bedakan Pria dan Wanita

Burung Gagak mampu membedakan wajah pria dan wanita, menurut penelitian baru yang dilakukan di Jepang.

Burung Gagak Bisa Bedakan Pria dan Wanita
Foto: Flickr

Untuk pertama kalinya, serangkaian eksperimen mengungkapkan bahwa burung gagak memiliki kemampuan untuk membedakan foto subyek laki-laki dan perempuan.

Studi tersebut melibatkan eksperimen yang dilakukan terhadap empat burung gagak hutan yang merupakan jenis yang sangat lazim ditemukan di perkotaan Jepang dan sering kali dianggap sebagai gangguan perkotaan karena ledakan populasi burung tersebut. Demikian seperti yang dilansir oleh Telegraph, Jumat (12/11/10).

Setelah para ilmuwan menunjukkan kepada empat burung gagak tersebut serangkaian foto-foto warna manusia yang rambutnya disembunyikan, sepasang burung yang dilatih untuk mengambil foto-foto wajah pria dan pasangan lainnya wajah wanita mengerjakan tugas mereka masing-masing.

Sebagai bagian dari pelatihan burung-burung tersebut, setiap gagak menerima potongan keju dari para ilmuwan jika memilih jawaban yang benar.

Ketika wajah-wajah pria dan wanita lain ditambahkan dan posisinya diacak, tiga dari empat gagak mengambil foto wajah yang benar dengan akurasi 100 persen, dan gagak keempat memilih jawaban yang benar sebanyak tujuh kali dari sepuluh foto.

Studi tersebut didalangi oleh Bezawork Afework berumur 32 tahun yang merupakan mahasiswa doktoral dari Ethiopia di United Graduate School of Agricultural Science di Tokyo University of Agriculture and Technology dan Utsonomiya University.

Shoei Sugita yang merupakan seorang profesor di Universitas Utsonomiya yang dijuluki "profesor gagak" karena keahliannya di bidang burung mengatakan kepada Surat Kabar Mainichi: "Jika kita memanfaatkan sifat-sifat ini, kita mungkin bisa memikirkan cara untuk menghentikan gagak-gagak tersebut untuk datang menghampiri kita."

Penemuan tersebut kemungkinan besar disambut oleh para perencana kota dan para aktifis lingkungan yang bertugas untuk mencari jalan bagi burung gagak dan manusia untuk hidup dengan harmonis dalam lingkungan perkotaan.

Ikan Hiu Buta Warna

Menurut penelitian baru, mengenakkan pakaian renang berwarna putih atau biru muda dapat melindungi anda dari serangan ikan hiu.

Ikan Hiu Ternyata Buta Warna

Para peneliti menemukan bahwa mata ikan hiu, termasuk hiu sapi dan hiu harimau, tidak didesain untuk membedakan warna jadi mata mereka hanya melihat dunia dalam hitam dan putih.

Hal itu berarti bertentangan dengan warna biru muda laut, akan lebih baik mengenakkan pakaian renang yang berwarna cerah untuk mengurangi kekontrasan atau perbedaan warna dengan air.

Studi tersebut mendukung statistik dari International Shark Attack File (ISAF) yang menunjukkan bahwa kebanyakan serangan ikan hiu terjadi pada penyelam atau peselancar yang mengenakkan pakaian untuk air yang berwarna hitam.

Tim peneliti di Universitas Western Australia dan Universitas Queensland memeriksa mata 17 spesies ikan hiu termasuk, hiu sapi, hiu harimau, hiu karang dan hiu Port Jackson.

Mereka menemukan bahwa retina mata mereka hanya memiliki satu kerucut (cone atau detektor cahaya) yang hanya dapat mendeteksi terang atau gelap. Hal tersebut berarti satu buah apel yang berwarna merah hanya sesuatu yang bercorak gelap bagi mereka.

Sebaliknya manusia memiliki tiga kerucut untuk membedakan warna, merah, hijau dan biru.

Seperti yang dilansir oleh Telegraph (18/01/11), Profesor Nathan Hart, pemimpin penelitian tersebut, mengatakan bahwa penglihatan ikan hiu bisa dibandingkan dengan menonton televisi hitam putih.

"Apabila ikan hiu kurang dalam penglihatan warna, hal tersebut berarti bahwa kekontrasan terang lebih penting untuk mendeteksi dan mengidentifikasi obyek-obyek," tuturnya.

"Kita boleh menggunakan informasi ini untuk membantu mendesain kapal selancar kecil dan pakaian renang yang kurang menarik perhatian atau lebih memuakkan bagi ikan hiu untuk mengurangi serangan terhadap orang-orang.

"Kita juga boleh menggunakannya untuk mendesain umpan pancingan panjang yang kurang menarik bagi ikan hiu dan mengurangi jumlah ikan hiu yang mati karena tertangkap pancingan setiap tahun."

Profesor Hart mengatakan bahwa lebih banyak penelitian diperlukan untuk menentukan pola mana yang berfungsi paling baik untuk mengelakkan ikan hiu.

"Langkah selanjutnya ialah melihat pada perilaku," katanya.

Walaupun kebanyakan ikan bertulang (bony fish, Osteichthyes) memiliki beberapa penglihatan warna, ikan paus, lumba-lumba dan anjing laut diyakini juga hanya memiliki satu kerucut.

Penelitian baru itu mengejutkan karena ikan hiu merupakan salah satu pemburu yang paling hebat di dunia.

Hingga saat ini, para ahli meyakini bahwa kesuksesan evolusioner ikan hiu berada pada sistem sensor yang sangat teradaptasi, termasuk penglihatan.

Akan tetapi sekarang kelihatan bahwa ikan hiu sebenarnya mengandalkan mekanisme yang lain juga, yang kombinasinya memperkenankan keefektifan makhluk tersebut dalam berburu.

Studi tersebut dipublikasikan di Naturwissenschaften (Sains Alam).

Kamis, 17 Mei 2012

Asteroid, Komet dan Meteorid

Asteroid
Di daerah antara orbit planet mars dan planet yupiter ditemukan orbit-orbit dari sejumlah besar benda-benda angkasa kecil. Benda-benda ini dikenal sebagai asteroid atau planet kecil (planetoid). Jumlah benda-benda itu sekitar dua ribu buah dan jumlah keseluruhannya mungkin lebih dari seratus ribu buah. Beberapa diantaranya memiliki orbit yang bergerak melampaui planet yupiter dan beberapa diantara orbit planet mars, bahkan ada yang mendekati matahari, seperti iracus dan apollo. Ada juga yang berorbit di sekitar planet yupiter, seperti asteroid trojan. Planetoid kecil mempunyai susunan materi seperti bumi, misalnya taras, eros, dan geografos. Ada pula planetoid yang berwarna gelap karena mempunyai kandungan karbon yang sangat tinggi. Kelompok asteroid ini mungkin mengandung nikel dan besi, seperti bahan pembentuk planet.

Komet
Komet adalah sebuah bintang yang diliputi oleh kabut remang-remang yang semakin lama semakin panjang dan kemudian menyerupai ekor. Bintang ini dinamakan ‘bintang berekor’. Orang jawa menyebutnya ‘lintang kemukus’.

Komet memiliki bagian-bagian sebagai berikut:
a. Nukleus inti. Nukleus merupakan pusat yang sangat terang pada kepala komet. Diameternya mencapai 100 sampai 1.000 meter. Ahli astronomi beranggapan bahwa nukleus dapat berupa sebuah bola salju kotor yang terdiri dari debu, fragmen-fragmen batuan, metana beku, amoniak beku, karbondioksida beku, dan bentuk-bentuk lainnya.

b. Koma. Koma merupakan bola gas dan debu di sekeliling nukleus. Materi tersebut terbentuk bila radiasi matahari melelehkan bagian inti. Diameter koma bisa mencapai 2 juta km.
c. Ekor. Ekor terbentuk oleh aliran materi yang keluar dari kepala komet. Ekor terlihat pada saat komet mendekati matahari. Bentuk dan besar sebuah ekor komet dapat bervariasi, tetapi ujungnya selalu menjauhi matahari.

Meteorid
Meteorid adalah fragmen atau potongan materi yang mengorbit di matahari. Meteorid yang memasuki atmosfer bumi dan menguap membentuk bintang beralih disebut meteor. Meteor yang terus jatuh menembus atmosfer dan mendarat di permukaan bumi disebut meteorit. Ada lebih dari 75 juta meteor yang memasuki atmosfer bumi setiap harinya. Meteor bergerak dengan kecepatan 35-95 km/detik.

Berbagai Tingkat Keanekaragaman Hayati

Keanekaragaman hayati dapat terjadi pada berbagai tingkat kehidupan, mulai dari organisme tingkat rendah sampai organisme tingkat tinggi. Misalnya dari mahluk bersel satu hingga mahluk bersel banyak; dan tingkat organisasi kehidupan individu sampai tingkat interaksi kompleks, misalnya dari spesies sampai ekosistem.

Secara garis besar, keanekaragaman hayati terbagi menjadi tiga tingkat, yaitu :

Keanekaragaman gen


Setiap sifat organisme hidup dikendalikan oleh sepasang faktor keturunan (gen), satu dari induk jantan dan lainnya dari induk betina. Keanekaragaman tingkat ini dapat ditunjukkan dengan adanya variasi dalam satu jenis.
misalnya :
- variasi jenis kelapa : kelapa gading, kelapa hijau
- variasi jenis anjing : anjing bulldog, anjing herder, anjing kampung

Yang membuat variasi tadi adalah : Rumus : F = G + L
F = fenotip
G = genoti
L = lingkungan


Jika G berubah karena suatu hal (mutasi dll) atau L berubah maka akan terjadi perubahan di F. Perubahan inilah yang menyebabkan terjadinya variasi tadi.

Keanekaragaman jenis (spesies)


Keanekaragaman ini lebih mudah diamati daripada Keanekaragaman gen. Keanekaragaman hayati tingkat ini dapat ditunjukkan dengan adanya beraneka macam jenis mahluk hidup baik yang termasuk kelompok hewan, tumbuhan dan mikroba.

misalnya :
- variasi dalam satu famili antara kucing dan harimau. Mereka termasuk dalam satu famili(famili/keluarga Felidae) walaupun ada perbedaan fisik, tingkah laku dan habitat.

Keanekaragaman ekosistem

Keanekaragaman tingkat ini dapat ditunjukkan dengan adanya variasi dari ekosistem di biosfir.
misalnya :
ekosistem lumut, ekosistem hutan tropis, ekosistem gurun, masing-masing ekosistem memiliki organisme yang khas untuk ekosistem tersebut. misalnya lagi, ekosistem gurun di dalamnya ada unta, kaktus, dan ekosistem hutan tropis di dalamnya ada harimau.

Ketiga macam keanekaragaman tersebut tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Ketiganya dipandang sebagai suatu keseluruhan atau totalitas yaitu sebagai keanekaragaman hayati.

Alasan Kenapa Kucing Menoleh Ketika dipanggil Pus..

Suara ‘pus’ = makan?

Terkadang timbul pertanyaan, kenapa kucing akan datang kalau dipanggil ‘pus’? Dan, kenapa semua orang memanggil kucing dengan panggilan ‘pus’?
Lebih baik ke pertanyaan yang kedua terlebih dahulu.Kebanyakan orang akan memanggil kucing dengan panggilan ‘pus’ karena kata ‘pus’ sangat singkat, padat, dan jelas. Namun, pastinya kucing itu sendiri tidak tahu bahwa dirinya dinamakan pus atau apa (Emang doi ngerti bahasa manusia...??? hehe).
Kucing yang sejak lahir sampai dewasa tidak dipanggil ‘pus’ tidak akan mendatangi yang memanggilnya ‘pus’.
Biasanya, orang yang memanggil kucing dengan panggilan ‘pus’ memiliki tujuan memberi makan. Dengan kebiasan orang yang memanggil ‘pus’ terus-menerus ketika memberi makan, maka kucing akan mengetahui bahwa suara ‘pus’ adalah makan.
Makan adalah kesenangan bagi kucing (yah.. tentunya tidak hanya kucing yang doyan makan). Oleh karena itu, dengan memanggil ‘pus’ maka kucing akan merasa senang dan berharap akan realisasi dari rasa senangnya tersebut yaitu makan. Jadi, kucing yang datang ketika dipanggil ‘pus’ itu adalah kebiasaan.
Andaikan kucing sejak kecil sampai dewasa dipanggil ‘woi’ ketika hendak makan, sangat besar kemungkinannya kucing akan datang ketika dipanggil ‘woi’ meskipun tidak ada makanan.
Tidak heran, kalau ada kucing rumahan yang tidak menengok atau datang jika dipanggil dengan namanya, karena kucing tersebut biasa diberikan makanan begitu saja tanpa ada suara, perintah, atau komando khusus seperti ‘pus’.
Oleh karena itu, bagi yang ingin kucingnya datang ketika dipanggil namanya, harus dibiasakan memanggil namanya ketika diberikan makan. Kalau sudah terbiasa datang ketika dipanggil, maka coba tanpa makanan. Jika kucing datang, maka elus-eluslah dia supaya dia tetap merasa senang dan disayangi.